You are here: HomeCatalogArticlesBukti Empiris Pengaruh Spesialisasi Industri Auditor terhadap Earnings Response Coefficient

Bukti Empiris Pengaruh Spesialisasi Industri Auditor terhadap Earnings Response Coefficient

JRAI Vol 7 No 2 2004

Sekar Mayangsari

Universitas Trisakti

 

This study investigates the effect of auditor industry specialization on the earnings response coefficients (ERC). Prior work (DeAngelo 1981)  has suggested that auditors offer different levels of audit quality. One component of the quality difference across auditors is industry specialization (Craswell et al. 1995 and Hogan and Jeter 1999). Teoh dan Wong (1993) argue that audit quality is positively associated with the client’s quality of earnings and the earnings response coefficient (ERC), which is the responsiveness of the stock market to information about unexpected earnings. This study uses the sample of unregulated companies during1996-2000. The results suggest that, after controlling another variables that correlates with ERC, clients of industry specialist auditor have higher ERCs than clients of non-specialist auditors. Interestingly, there is no difference response statistically significance between firms that were audited by specialist auditor and by nonspecialist auditor.

Keywords: Auditor industry specialization; Audit quality; Earnings quality; Earnings response coefficient.

 

1.  Pendahuluan
Penelitian-penelitian tentang faktor-faktor yang mempengaruhi volatilitas earnings response coefficient (ERC) telah menjadi fokus penelitian di pasar modal sejak awal 1980-an. ERC didefinisikan sebagai koefisien untuk mengukur unexpected accounting earnings dalam regresi abnormal returns saham dan variabel-variabel lain.
Secara umum dikatakan bahwa perilaku ERC sangat fluktuatif dalam sampel yang cross-sectional dan dalam waktu yang relatif panjang (Lev 1989, Ohlson 1991, Penman 1996). Ada berbagai faktor yang menyebabkan fluktuasi ini. Faktor-faktor tersebut, seperti risiko (Collins dan Kothari 1989, Lipe 1990), pertumbuhan (Collins dan Kothari 1989, Martikainen 1997), persistensi (Kormendi dan Lipe 1987, Collins dan Kothari 1989, Lipe 1990), besaran perusahaan (Collins dan Kothari 1989) serta kualitas audit (Teoh dan Wong 1993).
Penelitian-penelitian sekarang dalam bidang pasar modal berfokus pada determinan ERC dengan mengorelasikan unexpected earnings dengan abnormal returns saham. ERC biasanya dianggap sebagai koefisien slope dari hasil regresi antara  returns saham abnormal dengan earnings kejutan. Beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa ERC bervariasi secara cross-sectional dan intertemporal; seperti Kormendi dan Lipe (1987), Collins dan Kothari (1989), Easton dan Zmijewski (1989), Biddle dan Seow (1991), serta Lipe (1990). Penelitian-penelitian tersebut menunjukkan bahwa ERC bergantung pada tingkat persistensi earnings, prediktibilitas earnings, covariasi saham dengan returns pasar, pertumbuhan perusahaan serta karakteristik industri.
Para peneliti ini memulai penelitiannya dengan melihat apakah reaksi harga saham terhadap earnings kejutan berhubungan dengan kualitas angka earnings yang dilaporkan. Imhoff dan Lobo (1992) menunjukkan bahwa perusahaan yang memiliki konsensus rendah dengan ramalan earnings analis cenderung memiliki ERC rendah. Meskipun demikian sangat mungkin bahwa ketidakpastian yang tinggi terhadap nilai perusahaan juga meningkatkan dispersi ramalan. Keduanya menyimpulkan bahwa rendahnya ERC mungkin juga karena adanya noise dalam ukuran akuntansi.
Lang dan McNichols (1990) menggunakan korelasi antara arus kas dan earnings sebagai prok­si untuk kualitas laporan earnings. Sebagai perluasan dari pernyataan tersebut dikatakan bahwa au­ditor yang berkualitas tinggi memberikan kepastian yang besar terhadap kesesuaian laporan keuangan dengan prinsip akuntansi berterima umum. Karena itu, seseorang berharap adanya korelasi yang tinggi antara expected future cash flows, earnings akuntansi dengan auditor berkualitas tinggi.         
Berdasarkan keterangan tersebut maka diharapkan juga bahwa kualitas auditor ini juga memiliki pengaruh yang besar terhadap kualitas earnings yang dilaporkan, karena investor beranggapan bahwa laporan earnings dari auditor yang berkualitas lebih akurat dan dapat mencerminkan nilai ekonomi sesungguhnya (Teoh dan Wong (1993). Kondisi ini dapat ditunjukkan dengan menggunakan model yang digunakan Holthausen dan Verrecchia (1988). Model tersebut menunjukkan bahwa besarnya respon harga saham meningkat sejalan dengan ketepatan informasi.
Karena investor tidak dapat secara langsung melihat hal-hal yang mendasari nilai earnings yang sesungguhnya, maka mereka pada umumnya bergantung pada angka-angka akuntansi yang dilaporkan. Dengan demikian untuk meningkatkan kredibilitas earnings yang dilaporkan mereka biasanya bergantung opini auditor eksternal yang memberikan jasa atestasi tentang kesesuaian earnings yang dilaporkan dengan prinsip akuntansi berterima umum.
Walaupun demikian investor mempersepsikan berbeda-beda opini terhadap laporan keuangan tergantung pada kualitas audit (Dopuch dan Simunic 1980, 1982). Selanjutnya dikatakan bahwa investor mempersepsikan auditor yang berasal dari big 5 atau yang berafiliasi dengan kantor akuntan internasional memiliki kualitas yang lebih tinggi karena auditor tersebut memiliki karakteristik-karakteristik yang bisa dikaitkan dengan kualitas, seperti pelatihan, pengakuan internasional serta adanya peer reviews. John (1991) menunjukkan bahwa kualitas auditor meningkat sejalan dengan besarnya kantor akuntan tersebut.
Craswell et al. (1995) menyatakan bahwa reputasi kantor akuntan terbentuk sejalan dengan pengembangan keahlian spesifik industri. Pengembangan spesialisasi itu sendiri costly akibatnya dapat meningkatkan fee audit. Selanjutnya, dengan memililiki keahlian tertentu berarti kualitas audit yang diberikan pada klien akan mengalami peningkatan. Dengan demikian disimpulkan bahwa keahlian industri merupakan dimensi lain kualitas audit.
Kualitas audit yang tinggi tentu akan menghasilkan pengujian yang berkualitas pula termasuk di dalamnya earnings yang dilaporkan. Secara intuitif, besaran ERC mencerminkan kualitas earnings yang tinggi pula (Scott ,2000: hal.15). Badyopadayay (1994) menyatakan juga bahwa besaran ERC menunjukkan kualitas earnings dan kondisi ini ditemui pada perusahaan-perusahaan minyak yang menggunakan metoda succesful effort.    
Berdasarkan latar belakang itu maka penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan kualitas audit dengan kualitas informasi yang dihasilkan dari jasa atestasi auditor berkualitas. Pada penelitian ini informasi  yang dimaksudkan adalah laporan keuangan, khususnya earnings yang merupakan bagian dari laporan keuangan dan sering menjadi pusat perhatian investor.  Kualitas earnings ini biasanya dilihat dari ERC.  
Penelitian ini penting karena beberapa alasan. Pertama, temuan studi ini berusaha menunjuk­kan kredibilitas laporan keuangan melalui kualitas audit. Dengan memahami pengaruh auditor sebagai proksi kualitas audit terhadap returns saham secara umum dan khususnya ERC maka investor dapat menggunakan informasi-informasi yang telah diperiksa oleh auditor eksternal yang berkualitas sebagai salah satu sumber yang kredibel dalam membuat keputusan investasi. Selain itu juga dapat digunakan juga untuk membuat judgment yang lebih baik terhadap kinerja perusahaan mendatang.
Kedua, penelitian ini berbeda dengan penelitian sebelumnya yang menggunakan proksi kualitas audit dengan membedakan auditor big 5 dan non big 5. Penelitian ini berusaha mengembangkan proksi lain dari kualitas audit dengan menggunakan spesialisasi industri auditor. Hasil penelitian ini diharapkan memberikan kontribusi terhadap pengukuran kualitas audit yang lebih baik. Hal ini dikarenakan selama ini proksi kualitas audit dengan membedakan big 5 dan nonbig 5 (afiliasi dan nonafiliasi) sudah banyak mendapatkan kritikan karena tidak lagi tepat setelah merebaknya kasus Enron yang melibatkan kantor akuntan besar yaitu Arthur Andersen.