You are here: HomeCatalogArticlesPengaruh Amortasi Goodwill Terhadap Kegunaan Informasi Laba

Pengaruh Amortasi Goodwill Terhadap Kegunaan Informasi Laba

JRAI Vol 11 No 3 2008

Tri Lestari

Universitas Sultan Ageng Tirtayasa Serang 

zaki baridwan 

Universitas Gadjah Mada Yogyakarta

 

The purpose of this study is to examine the usefulness of earnings and goodwill amortization by comparing the earnings before goodwill and the reported earnings (which include goodwill amortization). In addition, this study also investigates whether goodwill amortization contains incremental value-relevant information. We use 125 firm-year observations selected purposively from 1999 to 2006 of all listed companies in Indonesia Stock Exchange that report goodwill, as our sample. We find that earnings before goodwill amortization explain significantly more of the observed distribution of share prices than do earnings after goodwill amortization. Our result suggests that goodwill amortization does not contain incremental value-relevant information. In other words, it does not have any unique contribution in the relation between earnings and share value.

Keywords: goodwill amortization, earnings per share, the usefulness of earnings.

 


1.  Pendahuluan
Perlakuan akuntansi untuk goodwill telah menjadi permasalahan yang cukup hangat dalam lebih dua dekade terakhir. Akuntansi untuk goodwill telah lama menjadi bahan perdebatan yang berkepanjangan dan tampaknya tidak akan ada jawaban tunggal yang benar terhadap permasalahan akuntansi goodwill ini (Johnson dan Tearney, 1993). Di beberapa negara peraturan mengenai akuntansi goodwill telah mengalami beberapa perubahan, termasuk standar akuntansi internasional yang dikeluarkan oleh IASC. Pada awalnya, goodwill dikapitalisasi dan diamortisasi selama tidak lebih dari 20 tahun. Seiring dengan meningkatnya penggunaan akuntansi nilai wajar dalam standar akuntansi akhir-akhir ini, perlakuan akuntansi goodwill juga mengalami pergeseran. Impairment test (uji penurunan nilai) diterapkan untuk menggantikan perlakuan sebelumnya yaitu amortisasi.
Akuntansi untuk goodwill di Indonesia masih menerapkan pendekatan amortisasi dengan perioda amortisasi tidak lebih dari 20 tahun, seperti yang tercantum dalam PSAK No. 22 par. 39. Sementara itu, pendekatan ini telah mendapat banyak kritikan dari pembuat laporan keuangan dan analis keuangan. Mereka berpendapat bahwa amortisasi goodwill tidak dapat dipercaya untuk bisa memberi gambaran mengenai kinerja perusahaan saat ini dan yang akan datang. Oleh karenanya, amortisasi goodwill tersebut dianggap mengurangi kegunaan laba akuntansi sebagai dasar penilaian saham (Jennings et al., 2000).
Penelitian-penelitian terdahulu mengenai kandungan informasi goodwill menguji apakah goodwill seharusnya dilaporkan sebagai aset dalam neraca. Jika pasar menilai angka goodwill yang dilaporkan mencerminkan manfaat ekonomi di masa depan, maka akan terdapat hubungan positif antara goodwill dengan nilai pasar ekuitas. Penelitian mengenai relevansi nilai goodwill yang pernah dilakukan  memberi hasil yang konsisten, yaitu investor memandang goodwill sebagai aset. Chauvin dan Hirschey (1994) menemukan adanya hubungan positif yang konsisten antara goodwill dengan nilai perusahaan, meskipun hanya terbatas pada perusahaan manufaktur. Hubungan positif tersebut kemudian diperkuat lagi oleh hasil penelitian berikutnya yang dilakukan oleh McCarthy dan Scneider (1995) dan Jennings et al. (1996). Hirschey dan Richardson (2002) menggunakan pendekatan event-study untuk menguji hubungan antara goodwill write-off dengan nilai perusahaan sebagai pengujian alternatif tentang kandungan informasi dari angka akuntansi goodwill. Mereka menemukan pengaruh penilaian negatif yang dikaitkan dengan pengumuman goodwill write-off, konsisten dengan pandangan pasar terhadap goodwill yang merepresentasikan nilai ekonomi.
Hasil penelitian Duvall et al. (1992) mengindikasikan bahwa banyak perusahaan tidak mengungkapkan secara eksplisit mengenai amortisasi goodwill, bahkan ketika jumlahnya material terhadap pendapatan atau laba bersih. Hopkins et al. (2000) menyimpulkan bahwa keputusan harga saham yang diambil analis akan lebih rendah ketika suatu perusahaan menggunakan metoda pembelian untuk akuntansi penggabungan usaha dan mengamortisasi kelebihan akuisisi. Dengan kata lain, penelitian ini menemukan bahwa amortisasi goodwill berpengaruh negatif terhadap keputusan harga saham yang dibuat analis. Jennings et al. (2000) menemukan bahwa laba sebelum amortisasi goodwill lebih mampu menjelaskan distribusi harga saham observasian daripada laba dengan amortisasi goodwill.
Hubungan antara aset goodwill dengan nilai perusahaan juga ditemukan dalam penelitian yang menginvestigasi pengaruh perbedaan metoda akuntansi internasional. Penelitian yang dilakukan oleh Amir et al. (1993) tentang relevansi nilai rekonsiliasi earnings dan ekuitas pemegang saham antara US Generally Accepted Accounting Principles (GAAP) dan non-US GAAP yang tersedia dalam laporan form 20-F, menemukan bahwa item rekonsiliasi goodwill berhubungan dengan market-to-book ratio, konsisten dengan investor yang memandang goodwill sebagai aset. Selain itu, Barth dan Clinch (1996) yang meneliti tentang relevansi nilai pengungkapan goodwill rekonsiliasian pada US GAAP untuk perusahaan non-US, menemukan pengungkapan pada perusahaan Inggris memiliki relevansi nilai.
Penelitian ini bertujuan untuk memberikan bukti empiris mengenai angka earnings per share (EPS) mana yang lebih berguna dalam penilaian perusahaan. Oleh karenanya muncul pertanyaan penelitian sebagai berikut:
a.        Apakah laba sebelum amortisasi goodwill merupakan indikator harga saham yang lebih baik daripada laba dengan amortisasi goodwill?
b.        Apakah amortisasi goodwill mengandung relevansi nilai inkremental jika dikeluarkan tersendiri dari EPS?
Temuan penelitian ini diharapkan dapat memberi kontribusi kepada pembuat kebijakan akuntansi sebagai bahan pertimbangan apakah kebijakan akuntansi untuk goodwill di Indonesia perlu ditinjau kembali. Bagi investor (analis keuangan), temuan penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan pertimbangan mengenai bagaimana sebaiknya mereka harus mempertimbangkan amortisasi goodwill dalam analisis mereka. Bagi kalangan akademisi, temuan penelitian ini diharapkan mendorong munculnya diskusi para akademisi mengenai pengaruh amortisasi goodwill terhadap kegunaan informasi laba. Selanjutnya, penelitian ini juga dapat menjadi motivasi untuk melakukan penelitian berikutnya tentang kebijakan akuntansi goodwill mana yang sebaiknya diterapkan agar relevansi dan keterbandingan laporan keuangan meningkat.